Kegiatan Sekolah

Kegiatan Sekolah

Romantisisme Sumpah Pemuda 
dalam Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia
 
Bicara tentang bulan bahasa dan sastra Indonesia tentu tidak akan lepas dari pemahaman akan sumpah pemuda. Dua hal ini merupakan satu kesatuan yang berkelindan dan sudah barang tentu setiap generasi telah menginsafinya. Hal ini terlihat dari tingginya antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan Oktober sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia terutama dunia pendidikan. Segala tingkat pendidikan mulai dari yang rendah, menengah, atas, hingga tinggi sekalipun ikut memeriahkan peringatan bulan bahasa dan sastra. Linimasa media sosial selalu dibanjiri kegiatan yang berbau bahasa dan sastra bahkan bau tersebut sudah tercium sejak bulan Agustus.
Tampaknya, setiap insan di Indonesia tentu tahu betapa besarnya peranan bahasa Indonesia terhadap keutuhan dan persatuan bangsa. Bisa kita bayangkan jika 600 lebih bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke tidak memiliki bahasa pemersatu. Kekacauan dan rasa persaudaraan tentu saja tidak akan kita miliki jika toh dari segi bahasa saja kita tidak memiliki kesamaan.
Jika kita bicara tentang sejarah, maka semangat Sumpah Pemuda lah yang menjadi cikal bakal masa depan bahasa Indonesia. Waktu itu, 28 Oktober 1928, Soegondo membacakan sebuah rumusan yang dibuat oleh Moh. Yamin dihadapan ratusan pemuda yang berkumpul di Jalan Kramat Jaya No. 6 Jakarta Pusat (sekarang menjadi museum Sumpah Pemuda) yang berbunyi:
I.Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
II.Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
III.Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
 
Ikrar ketiga dalam sumpah pemuda di atas, yakni “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” menjadi penanda bahwa seluruh putra putri Indonesia memiliki bahasa pemersatu, yakni bahasa Indonesia. Ikrar tersebut juga menandakan bahwa pemuda Indonesia yang terdiri atas Jong Celebes, Jong Java, Jong Sumateranen Bond, dan organisasi pemuda kedaerahan lainnya telah berhasil meredam ego mereka demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Secara sosial, bahasa Indonesia dapat dikatakan diterima eksistensinya ketika Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda menjadi tonggak masyarakat Nusantara menerima dan melihat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia, bukan bahasa lain. Pada masa ini, bahasa Indonesia disadari jelas identitasnya sebagai bahasa yang berbeda dari bahasa Melayu.
Sebagai salah satu bentuk partisipasi dalam mengingat perjuangan pemuda bangsa 91 tahun silam dan memaknai bulan kelahiran bahasa Indonesia, SMA Triguna melakukan sejumlah kegiatan yang dilaksanakan dari tanggal 25-28 Oktober 2019. Kegiatan tersebut terdiri atas lomba story telling bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, debat bertemakan pemuda Indonesia, standup comedy, musikalisasi puisi, menulis cerpen, hingga menggambar mural bertemakan sumpah pemuda. Selain itu, SMA Triguna juga melakukan kegiatan menghias kelas (word wall) dengan menggunakan tiga macam bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris. Hal ini sejalan dengan tagline badan bahasa, yaitu “utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.”

PPDB ONLINE

PPDB 2021

Berita Terbaru

Belajar di Luar Kelas

Facebook

Instagram